Jakarta, 28 Oktober 2012 | Pkl 15.25 WIB
Seruan shalat Asar terdengar berkumandang. Aia yang
memang sudah menyiapkan diri sebelumnya, menunggu sambil membaca beberapa
ayat-Nya, menyudahi dan menandai bacaan kemudian meletakkan al-Qur’an berwarna
biru-bermotif bunga di meja. Menderetkannya paling depan di barisan koleksi bukunya.
Bergegas melangkah ke ruang sholat,
musholla, yang berada persis di depan ruang tengah.
Sajadah biru polos bergambar
kubah masjid kecil di tempat sujud, mengantarkan Aia pada kekhusyuan
menghadap-Nya. Aia yang sejak tadi diliputi keresahan berusaha meredamnya.
Meredam rasa takut akan masalah yang baginya besar. Sebab takbiratul ihram mengingatkannya bahwa Allah Maha Besar. Tidak ada yang lebih besar dari Allah. Tidak juga masalahnya. Allah, Dialah tempat
memohon pertolongan. Tempat memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Berserah
kepada-Nya dengan mengakui keagungan-Nya sepenuh hati lewat ruku’. Lalu
tersungkur dalam sujud, sempurna menyerahkan diri pada-Nya. Aia tenggelam dalam
kekhusyuan hingga salam menjadi
pengakhir shalat.
Ia tengadahkan kedua tangan, kembali memanjatkan do’a.
Memohon petunjuk pada-Nya. Memohon agar Allah melembutkan hati Bunda. Ya Allah,
ia tidak pernah menyangka semuanya akan jadi begini.
September 2011
Sebelum memahami Islam seperti sekarang, kehidupan Aia sama seperti
remaja SMA pada umumnya. Bersama Feby, Rindy dan Lita, sahabatnya sejak SMP. Setelah dulu pernah merasa kehilangan cahaya hidup. Aia
menganggap mereka
lah cahaya hidupnya yang baru. Aia amat menikmati dunianya bersama mereka. Nongkrong di mall, ke bioskop, update di
sosial media dan seabrek aktivitas yang –boleh dibilang- tidak ada manfaatnya. Ia
bahkan belum menutup aurat waktu itu.
Aia ingat benar. Betapa
borosnya ia waktu itu. Soal merayu Bunda untuk mendapat sejumlah “bonus”, Aia
ahlinya …. Seperti waktu itu. Malam sebelum hari ulang tahun ke-15. Aia
mendatangi Bunda yang sedang memeriksa beberapa file pekerjaan di laptop.
“Bunda,” sapa Aia. Berdiri
di kanan meja dan menghadap Bunda.
Bunda berhenti dan menoleh.
Dari nadanya, Bunda tahu kalau Aia sedang ada maunya.
“Besok kan ulang tahun Aia,”
Aia memulai jurusnya. Memasang wajah memelas ala anak bungsu sambil
memutar-mutar telunjuk kanan membentuk lingkaran di meja. “Nah, Aia sudah janji
ke teman-teman mau traktir mereka makan ….”
“Ya sudah, minta saja Bi
Tiah masak. Ajak mereka makan di rumah,” sahut Bunda enteng. Meski sudah tahu
benar arah pembicaraan ini.
Raut wajah Aia berubah.
Pipinya mengembung lantaran merasa Bunda tidak mengerti maksudnya. “Bunda …
ulang tahun itu hari spesial! Makannya juga spesial dong! Masakan Bi Tiah mah
sudah biasa, Bun!” protesnya. “Kecuali … Bunda yang masak! Aia dengan senang hati
ajak teman-teman makan di rumah,” cetus Aia. Ini sungguhan! Masakan Bunda
terkategori spesial untuk Aia. Sejak Bunda bekerja, tidak setiap hari ia bisa
makan masakan Bunda.
Tapi, Bunda tidak
menganggapnya serius. Malah menganggap itu hanya jurus Aia untuk mendapat yang
ia mau. Karena tentu saja Bunda tidak bisa melakukannya. Pekerjaan menunggunya
besok. Bunda mengalah. Menarik laci meja. Mengambil dompet dan mengeluarkan
beberapa lembar rupiah berwarna merah.
Aia menerimanya dengan wajah
girang. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ah, pipinya kembali mengembung begitu
tahu jumlahnya. “Hm … Bunda tahu nggak ya, kalau harga minyak dunia sekarang
naik,” gumamnya memberi kode sambil terus melirik Bunda.
Ya. Ya. Baik. Walaupun
alasan harga minyak dunia naik itu sangat berlebihan, Bunda kembali mengalah.
Dikeluarkannya lagi tiga lembar rupiah merah dari dompet. “Karena harga minyak
dunia naik, Bunda nggak ada uang jajan lagi untuk Aia bulan ini, paham?” ucap
Bunda sebelum memberikan uang tambahan.
“Oke, Bunda! Deal!” Aia
menyanggupi.
Walaupun sedikit tidak enak
karena ucapannya jadi bumerang. Tapi, tidak apa. Aia sudah mengatur strategi
keuangan dengan sangat baik. Sebelum menghadap Bunda, ia sudah lebih dulu menelepon
Ayah. Dengan alasan yang sama, meminta Ayah jadi donatur untuk acaranya besok. Kalau
manusia harus selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Maka, ini satu-satunya
hal yang bisa Aia syukuri dari perpisahan Ayah dan Bunda. Dapat uang jajan double!
Pokoknya, Aia akan lakukan
apapun asal bisa tetap eksis bersama tiga sahabatnya itu.
Hingga suatu hari cahaya itu Aia rasakan kembali
redup. Cahaya kembali kehilangan cahayanya. Semua bermula saat mereka duduk di
kelas 2
SMA. Saat Aia mulai kesal
dengan Rindy, Lita, dan Feby karena
saat ada tugas sekolah mereka selalu hanya mengandalkannya. Prestasi belajar Aia memang baik. Setidaknya, ia
selalu masuk dalam sepuluh besar di kelas.
Setiap kali belajar kelompok, ujung-ujungnya pasti Aia yang harus menyelesaikan
semua. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak Aia mengenal mereka di SMP
dulu. “Kita percayakan semua ke lo deh, Ai!” begitu kalimat andalan mereka.
“Kalian tuh kebiasaan, tahu nggak?! Mau sampe kapan kalian
ngandelin gue?! Sekarang terserah, kalau kalian mau, ayo kita kerjakan.
Tapi kalo nggak, ya maaf, gue nggak bisa bantu!” tegas Aia saat mereka sedang
kumpul dikelas usai bel pulang berbunyi, membicarakan tugas dari guru Biologi.
“Biasa aja kali, Ai! Sama temen aja itung-itungan!” sahut
salah satu temannya.
“Kalian tuh hidup mau ngapain sih? Emang cuma mau
seneng-seneng aja?!
Dari SMP kayak gini terus! Nggak kasihan kalian sama orang tua, kerja keras
buat anaknya. Nggak tahunya, anaknya cuma bisa hura-hura, ngerjain tugas aja
nggak!”
“Lu kenapa sih, Ai?! Jangan nyolot gitu dong!”
protes Feby. Matanya melotot, emosi.
Aia membuang muka, menahan kesal. “Terserah kalian
deh! Gue pulang!”
Aia meraih tas di meja lalu bergegas keluar kelas. Tiba-tiba saja teringat satu
pertanyaannya barusan, kalian tuh hidup mau ngapain sih? Hidup mau ngapain?
Bisa-bisanya aku bicara begitu. Sok benar! Menjudge mereka cuma bisa
hura-hura? Tapi, bukankah aku juga ikut saat mereka hura-hura? Apa bedanya aku
dengan mereka? Rutuk hatinya yang sedikit menyesal berkata seperti itu pada
teman-teman.
Aia sempat menoleh ke belakang. Teman-temannya sibuk mencibir. Yee,
ngambek! Tahu nih, Aia! Dasar aneh! Begitu aja marah! Sensi
banget! Eh, tapi gimana nih jadinya tugas kita? Bla bla bla bla. Aia
segera berlalu.
***
Aia yang baru saja tiba di depan rumah, berjalan
gontai dengan wajah cemberut khasnya, mengembungkan
pipi. Kesal. Aia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Sama
sekali tidak bermaksud benar-benar meninggalkan mereka. Ia berharap mereka menahan langkahnya saat keluar kelas tadi. Tapi …. “Ah, memang dasar mereka itu!” gerutu Aia seraya menghentak-hentakan kaki. Sebal.
“Eh, eh … kenapa atuh
baru pulang teh langsung marah-marah kitu,” terdengar suara
laki-laki dengan dialek sunda menegurnya.
Aia menoleh. Ia hafal betul
kalau itu suara Mang Jo, petugas kebersihan di lingkungannya tinggal. Kebetulan
jadwal Mang Jo mengangkut sampah berbarengan dengan jadwal pulang sekolahnya.
Jadi, hampir tiap siang menjelang sore Aia dan pria empat puluh tahunan itu
terbiasa saling menyapa. “Eh, Mang Jo,” gumamnya.
“Neng Aia, mana … katanya
mau kasih buku buat anak Mamang yang SMP?” Mang Jo menagih janji Aia beberapa
waktu lalu.
Aia garuk-garuk kepala, baru
ingat dengan janjinya. “Oh iya, besok ya Mang, ya. Aia lupa bukunya ada di
mana.”
“Hm, ya sudah atuh. Tapi,
benar isukan, nya? Awas poho deui!” Mang
Jo memaklumi, memastikan dan setengah mengancam.
“Iya, iya,” sahut Aia.
“Jalan dulu, Neng,” Mang Jo
berpamitan. Tangannya memegang erat pegangan gerobak oranye lalu menariknya.
Melanjutkan tugas.
Aia memandangi Mang Jo yang
kian menjauh. Kembali menggaruk kepala. Baru ingat kalau buku-buku yang ia
janjikan itu ada di kolong tempat tidur, “Mudah-mudahan bukunya belum digigiti
tikus.”
***
Ah, lupakan Mang Jo dan
buku-buku di kolong tempat tidur itu. Saat ini benak Aia masih dipenuhi
kekesalan pada Feby, Rindy dan Lita. Sejak
kejadian itu Aia mulai jaga jarak. Masih malas bicara dengan mereka. Maunya mereka bisa berubah. Setidaknya
bisa sedikit lebih serius dalam belajar. Jangan hanya mengandalkannya saja,
sementara mereka asyik ngobrol tentang pacar-pacar mereka. Lagi pula, ia tidak
merasa apa yang dilakukannya itu salah. Jadi tidak ada alasan untuk Aia harus
duluan mendekati mereka.
Bukannya sadar, teman-temannya malah ikut jaga jarak.
Walaupun sebenarnya mereka butuh Aia –karena tidak ada lagi yang bisa mereka
andalkan dalam mengerjakan tugas-, tapi mereka juga gengsi kalau harus duluan
mendekati. Jadi lah mereka sama-sama menjaga jarak. Sejak itulah Aia tiba-tiba merasa
sendiri. Dan benar-benar sendiri. Di kelas
sendiri. Ke kantin sendiri. Ke perpustakaan sendiri. Pulang
sekolah sendiri. Padahal, jangankan ke kantin, ke toilet saja biasanya rombongan.
Seperti saat Aia
sedang duduk di kantin hari ini. Feby, Rindy dan Lita melintas di depan mata
tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Seolah Aia tidak sedang duduk di sana.
Aia paling benci dianggap tidak ada. Aia lebih baik dimarahi atau apa pun, daripada harus
dianggap tidak ada. Baginya, itu jauh lebih menyakitkan.
Aia mengempaskan napas kesal lalu menyeruput es teh
manis. “Gila, ya mereka?! Apa artinya sahabatan empat tahun!” rutuknya. Jangan-jangan
selama ini mereka benar-benar hanya
memanfaatkanku saja untuk mengerjakan tugas, duga Aia dalam hati. Menyesal sekali pernah
menganggap mereka sebagai cahaya hidup.
“Boleh ikutan duduk, ya,” sebuah suara mengejutkan
Aia yang sedang bengong.
Aia menoleh. Raras dan Azki, teman sekelas yang selalu berkerudung lebih lebar dari
yang lainnya. Sekarang mereka sedang tersenyum manis -menjurus
memelas-
padanya, “Meja yang lain penuh soalnya,” tambah Azki.
“Duduk aja,” mata Aia melirik
kursi kosong.
Tanpa perlu dikomando dua kali, Raras dan Azki
segera mengambil posisi.
Meski satu kelas, Aia
tidak terlalu dekat dengan mereka. Maklum, kebiasaan
mereka memang kerap beseberangan. Jika Aia aktif bergaul. Keduanya justru aktif
di GARIS, sebutan untuk ekskul rohis di sekolah. Singkatan dari Geng Anak Rohis.
“Perasaan, sekarang-sekarang ini kita sering lihat
kamu sendirian, Ai? Nggak bareng sama mereka?” Raras melirik ke arah Rindy,
Feby dan Lita yang asyik mengobrol sambil ketawa-ketiwi di meja sebelah.
Aia menoleh. Itu memang meja favorit mereka. Biasanya ia juga ada di sana. Sejurus kemudian tersadar
dan kembali menghadapkan wajahnya ke Raras. Aia tersenyum datar, malas membahasnya.
“Lagi ada masalah, ya?” selidik Azki sambil
menyeruput es jeruk.
“Ya ... lagi bete aja sama mereka,” sahut Aia
akhirnya.
“Bete? Kenapa?” Raras ikut menyelidik, ingin tahu.
Sebab, selama ini ia tidak pernah satu kali pun melihat Aia jauh dari tiga sahabatnya itu.
“Iya, bete! Habis mereka maunya have fun aja.
Giliran ada tugas mereka selalu ngandelin aku.
Ya males lah jadinya!” sahut Aia yang jadi kesal sendiri. Tangannya refleks
memotong-motong siomay dengan cepat, gemas.
Raras manggut-manggut, paham situasinya.
“Ah, udahlah jangan bahas mereka! Bikin tambah kesel aja!” sungut Aia sambil menyuap siomay yang sudah
dicincangnya barusan.
Raras nyengir, “Maaf, ya.”
“Kalian nggak ada kegiatan sama teman-teman GARIS yang lain? Biasanya jam istirahat
pada ngumpul di musholla,” Aia mengalihkan sendiri topik pembicaraan.
“Mereka di musholla, lagi pada shalat dhuha,” sahut Azki
santai sambil menikmati menu favoritnya, bakso. “Tapi, berhubung kita lagi haid
dan laper juga, jadi kita ke kantin duluan, deh. He ....”
“Hm, kompak banget sih, kalian! Emang kegiatan GARIS
tuh apa aja, sih? Kayaknya kalian sibuk banget. Adaa aja yang dikerjain.”
“Ya, macam-macam. Kegiatannya itu ada yang mingguan,
bulanan, ada juga yang insidental. Mingguan itu, kajian. Kalau bulanan ...,” Raras terus mengoceh, menceritakan
kegiatannya dan teman-teman rohis. Di bantu Azki yang sesekali menimpali. Bak
seorang sales yang sedang mempromosikan barang dagangannya.
Aia sampai menguap mendengarnya. Sedari tadi hanya
bisa manggut-manggut karena tidak punya kesempatan menjawab meski hanya satu
kata.
Bisa dibilang, ini titik awalnya. Ketika Aia tengah
kesal dengan teman-teman satu gengnya. Sedang merasa sendiri. Raras dan Azki
hadir menemani. Setelah percakapan di kantin itu. Percakapan-percakapan lain
mulai tercipta. Aia mulai dekat dengan Raras dan Azki. Bukan hanya mereka,
akhirnya Aia juga mulai dekat dengan teman-teman rohis yang lain. Lama kelamaan
Aia mulai nyaman bergaul dengan teman-teman GARIS. Dulu, ia pikir anak-anak GARIS
itu membosankan yang kerjanya hanya mengaji. Ternyata salah!
Mereka tetap update dengan hal-hal baru, tapi
mereka lebih selektif. Tidak seperti dirinya yang asal mengikuti. Aktivitas
mereka selalu aktivitas yang bermanfaat. Bukan aktivitas tidak jelas seperti yang
selama ini Aia lakukan bersama teman-teman. Mereka juga aktif di sosial media. Bukan
untuk curhat apalagi upload foto-foto selfie. Akun yang mereka punya itu
untuk …
apa mereka bilang? Hm
... untuk dakwah, ya semacamnyalah. Aia masih belum terlalu connect
dengan istilah-istilah mereka.
Yang jelas, Aia suka dengan mereka. Memang benar,
kalau mau tahu tentang sesuatu cari tahu langsung dari yang bersangkutan.
Jangan hanya menduga atau sekadar mendengar dari orang. Apalagi orang yang tidak tahu sama sekali tentang itu. Hanya menimbulkan dugaan-dugaan
yang belum tentu benar dan lebih sering salah.
Seperti cara Aia yang hanya menduga tentang GARIS. Ternyata
derajat
berbanding terbalik dengan kenyataan. Uh! Aia jadi malu pernah mencap negatif
mereka. Ia kira mereka sekumpulan orang-orang kuper.
Salah besar!
Oke, sepertinya Aia berhutang maaf atas stigma
tentang mereka.
Menariknya, meski banyak kegiatan, mereka tidak
pernah lupa dengan pelajaran. Anak-anak GARIS selalu terhitung sebagai siswa
berprestasi. Jangan tanya
soal agama, mereka mengenal agama mereka. Mereka tahu kenapa mereka menjadi
muslim. Tidak seperti Aia yang tidak bisa menjawab ketika ada salah satu dari
mereka yang bertanya, “Kenapa kita menjadi muslim? Kenapa tidak jadi nasrani
saja atau yang lainnya?”
Mereka kebetulan sedang berdiskusi tentang muallaf.
Banyak fakta tentang muallaf yang justru terlihat lebih mantap mengambil Islam
dibanding mereka yang memang sudah Islam sejak lahir karena orang tua mereka
muslim.
Aia terdiam. Berpikir sejenak, kenapa aku beragama Islam? Ya, sejauh ini ia menjadi muslim karena
terlahir dari Ayah dan Bunda yang juga muslim.
Jika ia lahir dari orang tua non-muslim, mungkin ia juga akan menjadi
non-muslim.
“Ya, gitu deh
kalau kita jadi muslim hanya karena orang tua kita juga muslim, alias faktor
keturunan. Beda sama muallaf. Mereka kan benar-benar mencari. Berpikir sampai
mereka menemukan agama yang benar,” jelas Raras.
Aia manggut-manggut, ya, benar juga, gumam
hatinya. Aia semakin senang bergaul dengan anak-anak GARIS. Sangat berbeda
dengan teman-temannya yang hanya bisa having fun dan selalu mengandalkannya
saat ada tugas. Sampai akhirnya Aia memutuskan, “Ras, Azki, menurut kalian ...
kalau seandainya aku gabung dengan kalian di GARIS, bagaimana?”
“Serius, Ai?!” seru Raras
dan Azki terkejut yang juga membuat Aia terkejut.
“I, iya. Tapi jangan bikin kaget juga kali.”
“Hehe, maaf. Berlebihan ya?” Raras nyengir, Aia
mengangguk dengan ekspresi khawatirnya.
“Setuju! Kamu nggak salah ambil keputusan deh kalau
mau gabung di GARIS!” imbuh Azki
senang. Layaknya sales yang sedang meyakinkan customer untuk
membeli barang dagangannya.
***
Bagian 1 - Dulu [Part III]
Terimakasih sudah membaca cerita ini.
Oya, kamu juga bisa menikmati kisah "Cahaya" di akun Wattpad Maswha Faizah.
Terimakasih sudah membaca cerita ini.
Oya, kamu juga bisa menikmati kisah "Cahaya" di akun Wattpad Maswha Faizah.
RSS Feed
Twitter
Jumat, Januari 13, 2017
Unknown

Posted in
0 komentar:
Posting Komentar