Jumat, 13 Januari 2017

Jakarta, 28 Oktober 2012 | Pkl 15.25 WIB
Seruan shalat Asar terdengar berkumandang. Aia yang memang sudah menyiapkan diri sebelumnya, menunggu sambil membaca beberapa ayat-Nya, menyudahi dan menandai bacaan kemudian meletakkan al-Qur’an berwarna biru-bermotif bunga di meja. Menderetkannya paling depan di barisan koleksi bukunya. Bergegas melangkah ke ruang sholat, musholla, yang berada persis di depan ruang tengah.

Sajadah biru polos bergambar kubah masjid kecil di tempat sujud, mengantarkan Aia pada kekhusyuan menghadap-Nya. Aia yang sejak tadi diliputi keresahan berusaha meredamnya. Meredam rasa takut akan masalah yang baginya besar. Sebab takbiratul ihram mengingatkannya bahwa Allah Maha Besar. Tidak ada yang lebih besar dari Allah. Tidak juga masalahnya. Allah, Dialah tempat memohon pertolongan. Tempat memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Berserah kepada-Nya dengan mengakui keagungan-Nya sepenuh hati lewat ruku’. Lalu tersungkur dalam sujud, sempurna menyerahkan diri pada-Nya. Aia tenggelam dalam kekhusyuan hingga salam menjadi pengakhir shalat.

Ia tengadahkan kedua tangan, kembali memanjatkan do’a. Memohon petunjuk pada-Nya. Memohon agar Allah melembutkan hati Bunda. Ya Allah, ia tidak pernah menyangka semuanya akan jadi begini.

September 2011

Sebelum memahami Islam seperti sekarang, kehidupan Aia sama seperti remaja SMA pada umumnya. Bersama Feby, Rindy dan Lita, sahabatnya sejak SMP. Setelah dulu pernah merasa kehilangan cahaya hidup. Aia menganggap mereka lah cahaya hidupnya yang baru. Aia amat menikmati dunianya bersama mereka. Nongkrong di mall, ke bioskop, update di sosial media dan seabrek aktivitas yang  –boleh dibilang- tidak ada manfaatnya. Ia bahkan belum menutup aurat waktu itu.

Aia ingat benar. Betapa borosnya ia waktu itu. Soal merayu Bunda untuk mendapat sejumlah “bonus”, Aia ahlinya …. Seperti waktu itu. Malam sebelum hari ulang tahun ke-15. Aia mendatangi Bunda yang sedang memeriksa beberapa file pekerjaan di laptop.

“Bunda,” sapa Aia. Berdiri di kanan meja dan menghadap Bunda.

Bunda berhenti dan menoleh. Dari nadanya, Bunda tahu kalau Aia sedang ada maunya.

“Besok kan ulang tahun Aia,” Aia memulai jurusnya. Memasang wajah memelas ala anak bungsu sambil memutar-mutar telunjuk kanan membentuk lingkaran di meja. “Nah, Aia sudah janji ke teman-teman mau traktir mereka makan ….”

“Ya sudah, minta saja Bi Tiah masak. Ajak mereka makan di rumah,” sahut Bunda enteng. Meski sudah tahu benar arah pembicaraan ini.

Raut wajah Aia berubah. Pipinya mengembung lantaran merasa Bunda tidak mengerti maksudnya. “Bunda … ulang tahun itu hari spesial! Makannya juga spesial dong! Masakan Bi Tiah mah sudah biasa, Bun!” protesnya. “Kecuali … Bunda yang masak! Aia dengan senang hati ajak teman-teman makan di rumah,” cetus Aia. Ini sungguhan! Masakan Bunda terkategori spesial untuk Aia. Sejak Bunda bekerja, tidak setiap hari ia bisa makan masakan Bunda.

Tapi, Bunda tidak menganggapnya serius. Malah menganggap itu hanya jurus Aia untuk mendapat yang ia mau. Karena tentu saja Bunda tidak bisa melakukannya. Pekerjaan menunggunya besok. Bunda mengalah. Menarik laci meja. Mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar rupiah berwarna merah.

Aia menerimanya dengan wajah girang. Satu, dua, tiga, empat, lima. Ah, pipinya kembali mengembung begitu tahu jumlahnya. “Hm … Bunda tahu nggak ya, kalau harga minyak dunia sekarang naik,” gumamnya memberi kode sambil terus melirik Bunda.

Ya. Ya. Baik. Walaupun alasan harga minyak dunia naik itu sangat berlebihan, Bunda kembali mengalah. Dikeluarkannya lagi tiga lembar rupiah merah dari dompet. “Karena harga minyak dunia naik, Bunda nggak ada uang jajan lagi untuk Aia bulan ini, paham?” ucap Bunda sebelum memberikan uang tambahan.

“Oke, Bunda! Deal!” Aia menyanggupi.

Walaupun sedikit tidak enak karena ucapannya jadi bumerang. Tapi, tidak apa. Aia sudah mengatur strategi keuangan dengan sangat baik. Sebelum menghadap Bunda, ia sudah lebih dulu menelepon Ayah. Dengan alasan yang sama, meminta Ayah jadi donatur untuk acaranya besok. Kalau manusia harus selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Maka, ini satu-satunya hal yang bisa Aia syukuri dari perpisahan Ayah dan Bunda. Dapat uang jajan double!

Pokoknya, Aia akan lakukan apapun asal bisa tetap eksis bersama tiga sahabatnya itu.

Hingga suatu hari cahaya itu Aia rasakan kembali redup. Cahaya kembali kehilangan cahayanya. Semua bermula saat mereka duduk di kelas 2 SMA. Saat Aia mulai kesal dengan Rindy, Lita, dan Feby karena saat ada tugas sekolah mereka selalu hanya mengandalkannya. Prestasi belajar Aia memang baik. Setidaknya, ia selalu masuk dalam sepuluh besar di kelas. Setiap kali belajar kelompok, ujung-ujungnya pasti Aia yang harus menyelesaikan semua. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak Aia mengenal mereka di SMP dulu. “Kita percayakan semua ke lo deh, Ai!” begitu kalimat andalan mereka.

“Kalian tuh kebiasaan, tahu nggak?! Mau sampe kapan kalian ngandelin gue?! Sekarang terserah, kalau kalian mau, ayo kita kerjakan. Tapi kalo nggak, ya maaf, gue nggak bisa bantu!” tegas Aia saat mereka sedang kumpul dikelas usai bel pulang berbunyi, membicarakan tugas dari guru Biologi.

“Biasa aja kali, Ai! Sama temen aja itung-itungan!” sahut salah satu temannya.

“Kalian tuh hidup mau ngapain sih? Emang cuma mau seneng-seneng aja?! Dari SMP kayak gini terus! Nggak kasihan kalian sama orang tua, kerja keras buat anaknya. Nggak tahunya, anaknya cuma bisa hura-hura, ngerjain tugas aja nggak!”

“Lu kenapa sih, Ai?! Jangan nyolot gitu dong!” protes Feby. Matanya melotot, emosi.

Aia membuang muka, menahan kesal. “Terserah kalian deh! Gue pulang!”

Aia meraih tas di meja lalu bergegas keluar kelas. Tiba-tiba saja teringat satu pertanyaannya barusan, kalian tuh hidup mau ngapain sih? Hidup mau ngapain? Bisa-bisanya aku bicara begitu. Sok benar! Menjudge mereka cuma bisa hura-hura? Tapi, bukankah aku juga ikut saat mereka hura-hura? Apa bedanya aku dengan mereka? Rutuk hatinya yang sedikit menyesal berkata seperti itu pada teman-teman.

Aia sempat menoleh ke belakang. Teman-temannya sibuk mencibir. Yee, ngambek! Tahu nih, Aia! Dasar aneh! Begitu aja marah! Sensi banget! Eh, tapi gimana nih jadinya tugas kita? Bla bla bla bla. Aia segera berlalu.

***

Aia yang baru saja tiba di depan rumah, berjalan gontai dengan wajah cemberut khasnya, mengembungkan pipi. Kesal. Aia hanya ingin mengungkapkan perasaannya. Sama sekali tidak bermaksud benar-benar meninggalkan mereka. Ia berharap mereka menahan langkahnya saat keluar kelas tadi. Tapi …. “Ah, memang dasar mereka itu!” gerutu Aia seraya menghentak-hentakan kaki. Sebal.

“Eh, eh … kenapa atuh baru pulang teh langsung marah-marah kitu,” terdengar suara laki-laki dengan dialek sunda menegurnya.

Aia menoleh. Ia hafal betul kalau itu suara Mang Jo, petugas kebersihan di lingkungannya tinggal. Kebetulan jadwal Mang Jo mengangkut sampah berbarengan dengan jadwal pulang sekolahnya. Jadi, hampir tiap siang menjelang sore Aia dan pria empat puluh tahunan itu terbiasa saling menyapa. “Eh, Mang Jo,” gumamnya.

“Neng Aia, mana … katanya mau kasih buku buat anak Mamang yang SMP?” Mang Jo menagih janji Aia beberapa waktu lalu.

Aia garuk-garuk kepala, baru ingat dengan janjinya. “Oh iya, besok ya Mang, ya. Aia lupa bukunya ada di mana.”

“Hm, ya sudah atuh. Tapi, benar isukan, nya? Awas poho deui!” Mang Jo memaklumi, memastikan dan setengah mengancam.

“Iya, iya,” sahut Aia.

“Jalan dulu, Neng,” Mang Jo berpamitan. Tangannya memegang erat pegangan gerobak oranye lalu menariknya. Melanjutkan tugas.

Aia memandangi Mang Jo yang kian menjauh. Kembali menggaruk kepala. Baru ingat kalau buku-buku yang ia janjikan itu ada di kolong tempat tidur, “Mudah-mudahan bukunya belum digigiti tikus.”

***

Ah, lupakan Mang Jo dan buku-buku di kolong tempat tidur itu. Saat ini benak Aia masih dipenuhi kekesalan pada Feby, Rindy dan Lita. Sejak kejadian itu Aia mulai jaga jarak. Masih malas bicara dengan mereka. Maunya mereka bisa berubah. Setidaknya bisa sedikit lebih serius dalam belajar. Jangan hanya mengandalkannya saja, sementara mereka asyik ngobrol tentang pacar-pacar mereka. Lagi pula, ia tidak merasa apa yang dilakukannya itu salah. Jadi tidak ada alasan untuk Aia harus duluan mendekati mereka.

Bukannya sadar, teman-temannya malah ikut jaga jarak. Walaupun sebenarnya mereka butuh Aia –karena tidak ada lagi yang bisa mereka andalkan dalam mengerjakan tugas-, tapi mereka juga gengsi kalau harus duluan mendekati. Jadi lah mereka sama-sama menjaga jarak. Sejak itulah Aia tiba-tiba merasa sendiri. Dan benar-benar sendiri. Di kelas sendiri. Ke kantin sendiri. Ke perpustakaan sendiri. Pulang sekolah sendiri. Padahal, jangankan ke kantin, ke toilet saja biasanya rombongan.

Seperti saat Aia sedang duduk di kantin hari ini. Feby, Rindy dan Lita melintas di depan mata tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Seolah Aia tidak sedang duduk di sana. Aia paling benci dianggap tidak ada. Aia lebih baik dimarahi atau apa pun, daripada harus dianggap tidak ada. Baginya, itu jauh lebih menyakitkan.

Aia mengempaskan napas kesal lalu menyeruput es teh manis. “Gila, ya mereka?! Apa artinya sahabatan empat tahun!” rutuknya. Jangan-jangan selama ini mereka benar-benar hanya memanfaatkanku saja untuk mengerjakan tugas, duga Aia dalam hati. Menyesal sekali pernah menganggap mereka sebagai cahaya hidup.

“Boleh ikutan duduk, ya,” sebuah suara mengejutkan Aia yang sedang bengong.

Aia menoleh. Raras dan Azki, teman sekelas yang selalu berkerudung lebih lebar dari yang lainnya. Sekarang mereka sedang tersenyum manis -menjurus memelas- padanya, “Meja yang lain penuh soalnya, tambah Azki.

“Duduk aja,” mata Aia melirik kursi kosong.

Tanpa perlu dikomando dua kali, Raras dan Azki segera mengambil posisi.

Meski satu kelas, Aia tidak terlalu dekat dengan mereka. Maklum, kebiasaan mereka memang kerap beseberangan. Jika Aia aktif bergaul. Keduanya justru aktif di GARIS, sebutan untuk ekskul rohis di sekolah. Singkatan dari Geng Anak Rohis.

“Perasaan, sekarang-sekarang ini kita sering lihat kamu sendirian, Ai? Nggak bareng sama mereka?” Raras melirik ke arah Rindy, Feby dan Lita yang asyik mengobrol sambil ketawa-ketiwi di meja sebelah.

Aia menoleh. Itu memang meja favorit mereka. Biasanya ia juga ada di sana. Sejurus kemudian tersadar dan kembali menghadapkan wajahnya ke Raras. Aia tersenyum datar, malas membahasnya.
“Lagi ada masalah, ya?” selidik Azki sambil menyeruput es jeruk.

“Ya ... lagi bete aja sama mereka,” sahut Aia akhirnya.

“Bete? Kenapa?” Raras ikut menyelidik, ingin tahu. Sebab, selama ini ia tidak pernah satu kali pun melihat Aia jauh dari tiga sahabatnya itu.

“Iya, bete! Habis mereka maunya have fun aja. Giliran ada tugas mereka selalu ngandelin aku. Ya males lah jadinya!” sahut Aia yang jadi kesal sendiri. Tangannya refleks memotong-motong siomay dengan cepat, gemas.

Raras manggut-manggut, paham situasinya.

“Ah, udahlah jangan bahas mereka! Bikin tambah kesel aja!” sungut Aia sambil menyuap siomay yang sudah dicincangnya barusan.

Raras nyengir, “Maaf, ya.”

“Kalian nggak ada kegiatan sama teman-teman GARIS yang lain? Biasanya jam istirahat pada ngumpul di musholla,” Aia mengalihkan sendiri topik pembicaraan.

“Mereka di musholla, lagi pada shalat dhuha,” sahut Azki santai sambil menikmati menu favoritnya, bakso. “Tapi, berhubung kita lagi haid dan laper juga, jadi kita ke kantin duluan, deh. He ....”

“Hm, kompak banget sih, kalian! Emang kegiatan GARIS tuh apa aja, sih? Kayaknya kalian sibuk banget. Adaa aja yang dikerjain.”

“Ya, macam-macam. Kegiatannya itu ada yang mingguan, bulanan, ada juga yang insidental. Mingguan itu, kajian. Kalau bulanan ...,” Raras terus mengoceh, menceritakan kegiatannya dan teman-teman rohis. Di bantu Azki yang sesekali menimpali. Bak seorang sales yang sedang mempromosikan barang dagangannya.

Aia sampai menguap mendengarnya. Sedari tadi hanya bisa manggut-manggut karena tidak punya kesempatan menjawab meski hanya satu kata.

Bisa dibilang, ini titik awalnya. Ketika Aia tengah kesal dengan teman-teman satu gengnya. Sedang merasa sendiri. Raras dan Azki hadir menemani. Setelah percakapan di kantin itu. Percakapan-percakapan lain mulai tercipta. Aia mulai dekat dengan Raras dan Azki. Bukan hanya mereka, akhirnya Aia juga mulai dekat dengan teman-teman rohis yang lain. Lama kelamaan Aia mulai nyaman bergaul dengan teman-teman GARIS. Dulu, ia pikir anak-anak GARIS itu membosankan yang kerjanya hanya mengaji. Ternyata salah!

Mereka tetap update dengan hal-hal baru, tapi mereka lebih selektif. Tidak seperti dirinya yang asal mengikuti. Aktivitas mereka selalu aktivitas yang bermanfaat. Bukan aktivitas tidak jelas seperti yang selama ini Aia lakukan bersama teman-teman. Mereka juga aktif di sosial media. Bukan untuk curhat apalagi upload foto-foto selfie. Akun yang mereka punya itu untuk apa mereka bilang? Hm ... untuk dakwah, ya semacamnyalah. Aia masih belum terlalu connect dengan istilah-istilah mereka.
Yang jelas, Aia suka dengan mereka. Memang benar, kalau mau tahu tentang sesuatu cari tahu langsung dari yang bersangkutan. Jangan hanya menduga atau sekadar mendengar dari orang. Apalagi orang yang tidak tahu sama sekali tentang itu. Hanya menimbulkan dugaan-dugaan yang belum tentu benar dan lebih sering salah. Seperti cara Aia yang hanya menduga tentang GARIS. Ternyata derajat berbanding terbalik dengan kenyataan. Uh! Aia jadi malu pernah mencap negatif mereka. Ia kira mereka sekumpulan orang-orang kuper. Salah besar!

Oke, sepertinya Aia berhutang maaf atas stigma tentang mereka.

Menariknya, meski banyak kegiatan, mereka tidak pernah lupa dengan pelajaran. Anak-anak GARIS selalu terhitung sebagai siswa berprestasi. Jangan tanya soal agama, mereka mengenal agama mereka. Mereka tahu kenapa mereka menjadi muslim. Tidak seperti Aia yang tidak bisa menjawab ketika ada salah satu dari mereka yang bertanya, “Kenapa kita menjadi muslim? Kenapa tidak jadi nasrani saja atau yang lainnya?”

Mereka kebetulan sedang berdiskusi tentang muallaf. Banyak fakta tentang muallaf yang justru terlihat lebih mantap mengambil Islam dibanding mereka yang memang sudah Islam sejak lahir karena orang tua mereka muslim.

Aia terdiam. Berpikir sejenak, kenapa aku beragama Islam? Ya, sejauh ini ia menjadi muslim karena terlahir dari Ayah dan Bunda yang juga muslim. Jika ia lahir dari orang tua non-muslim, mungkin ia juga akan menjadi non-muslim.

“Ya, gitu deh kalau kita jadi muslim hanya karena orang tua kita juga muslim, alias faktor keturunan. Beda sama muallaf. Mereka kan benar-benar mencari. Berpikir sampai mereka menemukan agama yang benar,” jelas Raras.

Aia manggut-manggut, ya, benar juga, gumam hatinya. Aia semakin senang bergaul dengan anak-anak GARIS. Sangat berbeda dengan teman-temannya yang hanya bisa having fun dan selalu mengandalkannya saat ada tugas. Sampai akhirnya Aia memutuskan, “Ras, Azki, menurut kalian ... kalau seandainya aku gabung dengan kalian di GARIS, bagaimana?”

“Serius, Ai?!” seru Raras dan Azki terkejut yang juga membuat Aia terkejut.

“I, iya. Tapi jangan bikin kaget juga kali.”

“Hehe, maaf. Berlebihan ya?” Raras nyengir, Aia mengangguk dengan ekspresi khawatirnya.

“Setuju! Kamu nggak salah ambil keputusan deh kalau mau gabung di GARIS!” imbuh Azki senang. Layaknya sales yang sedang meyakinkan customer untuk membeli barang dagangannya.

***
Bagian 1 - Dulu [Part III]

Terimakasih sudah membaca cerita ini.
Oya, kamu juga bisa menikmati kisah "Cahaya" di akun Wattpad  Maswha Faizah.

0 komentar:

Posting Komentar