oleh : Maswha Faizah
Cinta, cinta, cinta. Hm, kalo udah ngomongin cinta yang ada di otak remaja n remaji pasti gak jauh-jauh dari PACARAN. Ya gak? Ya kan? Ya iyalah! Plis deh! Hari gini gak pacaran? Nguras laut aja sana! Wow, itu sih kata para aktivis pacaran! Kalo gak punya pacar tuh ya, rasanya, kayak jatuh dari lantai atas gedung tertinggi, kesenggol burung bondol yang lagi terbang, terus jatuh dan masuk ke tempat sampah! O.M.G. Emang segitunya ya?
Ngomong-ngomong soal pacaran, kita semua udah tahulah ya, apa aja yang dilakuin sama mereka yang pacaran. Mulai dari pegangan tangan, ciuman, sampe berzina! (udah tau kan?) Kita juga tahu kalo pacaran itu udah jadi aktivitas wajib buat remaja sekarang. Termasuk remaja Islam. Nah, lho! Remaja Islam pacaran juga? Emang boleh?
Asal usul Pacaran
Sebelum kita ngobrol jauh tentang pacaran. Kita harus tahu dulu, dari mana sih asal usul pacaran? Usut punya usut ternyata pacaran itu budayanya orang Nasrani. Karena menurut ajaran agama Nasrani“apa yang disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia”. Jadi, orang yang sudah menikah gak boleh berpisah alias cerai. Jadilah muncul budaya pacaran di tengah-tengah masyarakat nasrani. Tujuannya supaya calon suami-istri bisa saling mengenal sedalam-dalamya dan seintim-intimnya, supaya gak salah pilih dan bercerai.
Pacaran Vs Ta’aruf
Beda Nasrani, beda Islam. Islam membolehkan cerai -walaupun menjadi sesuatu yang dibenci Allah-. Jadi, gak perlu tuh proses mengenal sedalam-dalamnya (apalagi mengenal luar-dalem :O) dengan pacaran. Dalam Islam, kalau ingin mengenal calon suami or istri, ada yang dinamakan dengan proses ta’aruf. Eits! Jangan samain ta’aruf dengan pacaran ya! Coz ta’aruf bedaa banget sama pacaran. Dalam proses ta’aruf, gak boleh tuh laki-laki dan perempuan berdua-duaan. Dan otomatis gak ada juga tuh, jalan berdua, nonton berdua, apalagi mojok berdua.
Karena Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad).
Gimana dengan pacaran? Beuh, tahu ndiri kalo udah berdua sama pacar rasanya dunia milik berdua (yang lain ngontrak, he...). Gak boleh diganggu! Kalo ada orang yang mau nimbrung sama mereka, harus izin dulu. Kecuali setan kali ya, kan gak keliatan. Jadi, setan bisa leluasa mendekati dan menggoda mereka untuk melakukan hal yang mendekati zina sampe mereka bener-bener berzina! (ckckck, nauzhu billah!) Makanya Islam melarang umatnya berkhalwat alias berdua-duaan!
Allah SWT berfirman dalam surah al-Isra’ ayat 32 yang artinya, “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.”.
Tuh, kan! Deketin zina aja gak boleh, apalagi berzina! Tadi udah kita bahas kan, aktivitasnya orang pacaran itu ngapain aja. Yups, gak lain dari mendekati zina bahkan berzina! So, udah jelas dong bagaimana pandangan Islam tentang pacaran? Yups, dalam Islam gak ada yang namanya pacaran. Catet tuh, GAK ADA!
Apa? Pacaran Islami? Emang ada? Apa bedanya dengan pacaran biasa?
–gak ngapa-ngapain, cuma ngobrol aja, ngobrolnya di masjid juga kok... -
Tapi berduaan kan...? Ih, udah dibilangan eh, dibilangin, berduaan itu gak boleh, yang ketiganya setan! Mau di pojokan rumah kek, di masjid kek, di dalem sumur sekalipun, tetep gak boleh! Jadi, gak ada tuh yang namanya pacaran islami. Catet tuh, GAK ADA.
-Atau ada juga yang bilang, pacaran itu sama kok kayak ta’aruf, cuma beda bahasa aja!-
Hati-hati sob, walaupun tujuannya sama-sama untuk mengenal si calon. Tapi pada faktanya pacaran dan ta’aruf berbeda. So, ngaco deh kalo ada yang bilang pacaran itu sama kayak ta’aruf.
Dan jangan lupa, pacaran itu budayanya orang Nasrani. Hayo, hati-hati tasyabuh loh, sob! Kan Rasul udah ngingetin kita, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”. Na’udzubillah....
Cuma Islam yang Ngerti Kita
Ya gak sih? Iya banget.... Islam sebagai agama-Nya yang sempurna ngerti banget kalau manusia itu punya gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis) yang akan melahirkan sebuah perasaan bernama C.I.N.T.A (cie, cie...:). Maka Islam mengatur manusia untuk memenuhinya dengan menikah. Bukan dengan pacaran yang diisi dengan segudang maksiat. Yang kan membuat pelakunya rugi di akhirat. Bener atau betul?
So, yuk benahi diri dengan mengaji. Menyelami ayat-ayat dalam kitab suci serta sunnahnya nabi. Karena dua perkara itulah yang akan menyelamatkan kita dari kefanaan dunia yang menguji diri. Agar kita menjadi pribadi yang pandai mengendalikan diri dan hati.
Setiap naluri termasuk gharizah nau’ (cinta) memang perlu dipenuhi. Tapi, tidak harus. Kenapa? Karena kalaupun tidak dipenuhi, ia hanya akan menimbulkan rasa gelisah atau galau. Tidak akan menyebabkan kematian. Percaya deh....
Ketika hati mulai mencinta, ingatlah pada Maha Pemberi cinta. Karena-Nya lah seharusnya kita mencinta. Kepada-Nya lah seharusnya cinta kita berlabuh, karena Dialah muara cinta. Dialah Allah, Rabb semesta.
Negara, tolong bantu kita dong....
Hello... kita lagi ngomongin pacaran keles, kok lari ke negara?!
Ups! Tapi ini ada hubungannya lho, sob. Budaya pacaran yang udah kadung meracuni remaja Islam semakin dilestarikan dengan pemerintah kita yang menganut liberalisme (paham bebas sebebas-bebasnya). Dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti berdirinya mall-mall, tempat-tempat hiburan malam yang akhirnya digunakan remaja buat pacaran. Dengan membiarkan budaya kafir barat masuk baik lewat fashion, musik, film de el el deh. Negara bukannya melindungi justru menjerumuskan. Oalah! Piye to?!
Sekali lagi, itu karena negara kita menjadikan Demokrasi bin Kapitalisme bin Liberalisme sebagai sistem pemerintahan. Karena bebas, jadi mereka tidak merasa perlu mengatur pergaulan remaja. Akhirnya pergaulan remaja juga jadi pergaulan bebas. Padahal, Islam itu agama sempurna yang mengatur seluuruuh aspek kehidupan manusia, termasuk soal pergaulan dan pemerintahan. Kalau kita menjadikan Islam sebagai sistem pemerintahan, dijamin gak akan ada ceritanya negara memfasilitasi apalagi melesatarikan budaya pacaran.
Itulah Khilafah, negara yang akan menerapkan hukum Islam sebagai sistem pemerintahan. Itulah Khalifah yang akan memimpin dan melindungi umat Islam. Sebagai negeri yang mayoritas penduduknya islam, harusnya kita menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Bukan yang lain! Tapi, saat ini kita tidak punya khilafah. Kita tidak punya khalifah.
So, negara, please bantu remaja bebas dari pergaulan bebas dengan menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan. And, buat remaja, Islam tidak akan tegak tanpa ada yang memperjuangkannya. Yuk, kita sama-sama berjuang demi tegaknya kembali syari’ah Islam yang hanya bisa terwujud dalam bingkai khilafah. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Wallahu’alam bisshowab.
#harap sertakan sumber/link kalo mau copas ya... terima kasih...
yuk, saling menghargai karya orang lain...
Cinta, cinta, cinta. Hm, kalo udah ngomongin cinta yang ada di otak remaja n remaji pasti gak jauh-jauh dari PACARAN. Ya gak? Ya kan? Ya iyalah! Plis deh! Hari gini gak pacaran? Nguras laut aja sana! Wow, itu sih kata para aktivis pacaran! Kalo gak punya pacar tuh ya, rasanya, kayak jatuh dari lantai atas gedung tertinggi, kesenggol burung bondol yang lagi terbang, terus jatuh dan masuk ke tempat sampah! O.M.G. Emang segitunya ya?
Ngomong-ngomong soal pacaran, kita semua udah tahulah ya, apa aja yang dilakuin sama mereka yang pacaran. Mulai dari pegangan tangan, ciuman, sampe berzina! (udah tau kan?) Kita juga tahu kalo pacaran itu udah jadi aktivitas wajib buat remaja sekarang. Termasuk remaja Islam. Nah, lho! Remaja Islam pacaran juga? Emang boleh?
Asal usul Pacaran
Sebelum kita ngobrol jauh tentang pacaran. Kita harus tahu dulu, dari mana sih asal usul pacaran? Usut punya usut ternyata pacaran itu budayanya orang Nasrani. Karena menurut ajaran agama Nasrani“apa yang disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia”. Jadi, orang yang sudah menikah gak boleh berpisah alias cerai. Jadilah muncul budaya pacaran di tengah-tengah masyarakat nasrani. Tujuannya supaya calon suami-istri bisa saling mengenal sedalam-dalamya dan seintim-intimnya, supaya gak salah pilih dan bercerai.
Pacaran Vs Ta’aruf
Beda Nasrani, beda Islam. Islam membolehkan cerai -walaupun menjadi sesuatu yang dibenci Allah-. Jadi, gak perlu tuh proses mengenal sedalam-dalamnya (apalagi mengenal luar-dalem :O) dengan pacaran. Dalam Islam, kalau ingin mengenal calon suami or istri, ada yang dinamakan dengan proses ta’aruf. Eits! Jangan samain ta’aruf dengan pacaran ya! Coz ta’aruf bedaa banget sama pacaran. Dalam proses ta’aruf, gak boleh tuh laki-laki dan perempuan berdua-duaan. Dan otomatis gak ada juga tuh, jalan berdua, nonton berdua, apalagi mojok berdua.
Karena Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad).
Gimana dengan pacaran? Beuh, tahu ndiri kalo udah berdua sama pacar rasanya dunia milik berdua (yang lain ngontrak, he...). Gak boleh diganggu! Kalo ada orang yang mau nimbrung sama mereka, harus izin dulu. Kecuali setan kali ya, kan gak keliatan. Jadi, setan bisa leluasa mendekati dan menggoda mereka untuk melakukan hal yang mendekati zina sampe mereka bener-bener berzina! (ckckck, nauzhu billah!) Makanya Islam melarang umatnya berkhalwat alias berdua-duaan!
Allah SWT berfirman dalam surah al-Isra’ ayat 32 yang artinya, “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.”.
Tuh, kan! Deketin zina aja gak boleh, apalagi berzina! Tadi udah kita bahas kan, aktivitasnya orang pacaran itu ngapain aja. Yups, gak lain dari mendekati zina bahkan berzina! So, udah jelas dong bagaimana pandangan Islam tentang pacaran? Yups, dalam Islam gak ada yang namanya pacaran. Catet tuh, GAK ADA!
Apa? Pacaran Islami? Emang ada? Apa bedanya dengan pacaran biasa?
–gak ngapa-ngapain, cuma ngobrol aja, ngobrolnya di masjid juga kok... -
Tapi berduaan kan...? Ih, udah dibilangan eh, dibilangin, berduaan itu gak boleh, yang ketiganya setan! Mau di pojokan rumah kek, di masjid kek, di dalem sumur sekalipun, tetep gak boleh! Jadi, gak ada tuh yang namanya pacaran islami. Catet tuh, GAK ADA.
-Atau ada juga yang bilang, pacaran itu sama kok kayak ta’aruf, cuma beda bahasa aja!-
Hati-hati sob, walaupun tujuannya sama-sama untuk mengenal si calon. Tapi pada faktanya pacaran dan ta’aruf berbeda. So, ngaco deh kalo ada yang bilang pacaran itu sama kayak ta’aruf.
Dan jangan lupa, pacaran itu budayanya orang Nasrani. Hayo, hati-hati tasyabuh loh, sob! Kan Rasul udah ngingetin kita, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”. Na’udzubillah....
Cuma Islam yang Ngerti Kita
Ya gak sih? Iya banget.... Islam sebagai agama-Nya yang sempurna ngerti banget kalau manusia itu punya gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis) yang akan melahirkan sebuah perasaan bernama C.I.N.T.A (cie, cie...:). Maka Islam mengatur manusia untuk memenuhinya dengan menikah. Bukan dengan pacaran yang diisi dengan segudang maksiat. Yang kan membuat pelakunya rugi di akhirat. Bener atau betul?
So, yuk benahi diri dengan mengaji. Menyelami ayat-ayat dalam kitab suci serta sunnahnya nabi. Karena dua perkara itulah yang akan menyelamatkan kita dari kefanaan dunia yang menguji diri. Agar kita menjadi pribadi yang pandai mengendalikan diri dan hati.
Setiap naluri termasuk gharizah nau’ (cinta) memang perlu dipenuhi. Tapi, tidak harus. Kenapa? Karena kalaupun tidak dipenuhi, ia hanya akan menimbulkan rasa gelisah atau galau. Tidak akan menyebabkan kematian. Percaya deh....
Ketika hati mulai mencinta, ingatlah pada Maha Pemberi cinta. Karena-Nya lah seharusnya kita mencinta. Kepada-Nya lah seharusnya cinta kita berlabuh, karena Dialah muara cinta. Dialah Allah, Rabb semesta.
Negara, tolong bantu kita dong....
Hello... kita lagi ngomongin pacaran keles, kok lari ke negara?!
Ups! Tapi ini ada hubungannya lho, sob. Budaya pacaran yang udah kadung meracuni remaja Islam semakin dilestarikan dengan pemerintah kita yang menganut liberalisme (paham bebas sebebas-bebasnya). Dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti berdirinya mall-mall, tempat-tempat hiburan malam yang akhirnya digunakan remaja buat pacaran. Dengan membiarkan budaya kafir barat masuk baik lewat fashion, musik, film de el el deh. Negara bukannya melindungi justru menjerumuskan. Oalah! Piye to?!
Sekali lagi, itu karena negara kita menjadikan Demokrasi bin Kapitalisme bin Liberalisme sebagai sistem pemerintahan. Karena bebas, jadi mereka tidak merasa perlu mengatur pergaulan remaja. Akhirnya pergaulan remaja juga jadi pergaulan bebas. Padahal, Islam itu agama sempurna yang mengatur seluuruuh aspek kehidupan manusia, termasuk soal pergaulan dan pemerintahan. Kalau kita menjadikan Islam sebagai sistem pemerintahan, dijamin gak akan ada ceritanya negara memfasilitasi apalagi melesatarikan budaya pacaran.
Itulah Khilafah, negara yang akan menerapkan hukum Islam sebagai sistem pemerintahan. Itulah Khalifah yang akan memimpin dan melindungi umat Islam. Sebagai negeri yang mayoritas penduduknya islam, harusnya kita menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan. Bukan yang lain! Tapi, saat ini kita tidak punya khilafah. Kita tidak punya khalifah.
So, negara, please bantu remaja bebas dari pergaulan bebas dengan menerapkan Islam sebagai sistem kehidupan. And, buat remaja, Islam tidak akan tegak tanpa ada yang memperjuangkannya. Yuk, kita sama-sama berjuang demi tegaknya kembali syari’ah Islam yang hanya bisa terwujud dalam bingkai khilafah. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Wallahu’alam bisshowab.
#harap sertakan sumber/link kalo mau copas ya... terima kasih...
yuk, saling menghargai karya orang lain...
RSS Feed
Twitter
Senin, Desember 30, 2013
Unknown

Posted in